Install Steam
sign in
|
language
简体中文 (Simplified Chinese)
繁體中文 (Traditional Chinese)
日本語 (Japanese)
한국어 (Korean)
ไทย (Thai)
Bahasa Indonesia (Indonesian)
Bahasa Melayu (Malay) BETA
Български (Bulgarian)
Čeština (Czech)
Dansk (Danish)
Deutsch (German)
Español - España (Spanish - Spain)
Español - Latinoamérica (Spanish - Latin America)
Ελληνικά (Greek)
Français (French)
Italiano (Italian)
Magyar (Hungarian)
Nederlands (Dutch)
Norsk (Norwegian)
Polski (Polish)
Português (Portuguese - Portugal)
Português - Brasil (Portuguese - Brazil)
Română (Romanian)
Русский (Russian)
Suomi (Finnish)
Svenska (Swedish)
Türkçe (Turkish)
Tiếng Việt (Vietnamese)
Українська (Ukrainian)
Report a translation problem

Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia



"Hati Putih Bertepi Merah"
Yang di mana cinta itu ada batas nya. Ada batas nya kita melepaskan orang yang kita sayang, ada batas nya juga buat kita saling memahami satu sama lain, karna sejati nya memang kekurangan dan mengapa kita di satukan, karna untuk saling melengkapi, bukan saling menyalahkan. Seperti halnya hati putih bertepi merah , jika masanya sudah habis maka yang tersisa hanyalah kesetiaan.
"When ya" bukan sekedar kata spontan yang keluar begitu saja, itu adalah bentuk kecil dari keinginan. sebuah cara lembut untuk mengekspresikan bahwa aku juga ingin, bahwa di dalam diriku ada keinginan yang sama. tapi di baliknya, tersembunyi perasaan yang lebih dalam. "When ya" adalah tanya lirih pada diri sendiri, kapan giliranku untuk merasakannya? kapan aku bisa begitu juga? Lalu setelahnya, aku diam. aku belajar menerima bahwa tidak semua keinginan harus dimiliki, tidak semua perasaan harus diwujudkan. aku menatap dari jauh, menghirup kenyataan, dan perlahan melangkah pergi.