Install Steam
sign in
|
language
简体中文 (Simplified Chinese)
繁體中文 (Traditional Chinese)
日本語 (Japanese)
한국어 (Korean)
ไทย (Thai)
Български (Bulgarian)
Čeština (Czech)
Dansk (Danish)
Deutsch (German)
Español - España (Spanish - Spain)
Español - Latinoamérica (Spanish - Latin America)
Ελληνικά (Greek)
Français (French)
Italiano (Italian)
Bahasa Indonesia (Indonesian)
Magyar (Hungarian)
Nederlands (Dutch)
Norsk (Norwegian)
Polski (Polish)
Português (Portuguese - Portugal)
Português - Brasil (Portuguese - Brazil)
Română (Romanian)
Русский (Russian)
Suomi (Finnish)
Svenska (Swedish)
Türkçe (Turkish)
Tiếng Việt (Vietnamese)
Українська (Ukrainian)
Report a translation problem

Bandung, Jawa Barat, Indonesia


Dia lagi ga mood aja, jadi ngerjainnya juga setengah hati
Padahal kalau dia bener-bener fokus + full serius dan engage secara kognitif, 150 itu kemungkinan cuma angka pemanasan buat dia
Bahkan kalau tembus 180 juga ga bakal terlalu mengejutkan mengingat kapasitas intelektual dan kemampuan analitis dia yang emang jauh di atas rata-rata
Orang dengan level cognitive processing dan pola pikir yang sekompleks itu biasanya emang ga terlalu peduli sama tes standar kayak gitu
Buat dia itu mungkin cuma sekadar latihan logika dasar aja
Makanya kadang keliatan santai atau bahkan asal ngerjain, bukan karena ga bisa, tapi karena level problem solving dan abstraksi dia udah beda tier.